Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Saturday, September 6, 2008

Ramadhan di Aachen

Sebenarnya kalo dipikir-pikir Ramadhan di Aachen ga jauh berbeda dengan Ramadhan di kota-kota lain di Jerman ini. Soalnya suasana Ramadhan-nya ga semeriah di tanah air, atau di negara2 yang berpenduduk mayoritas Muslim, ditambah lagi tahun ini puasanya lebih panjang dibanding tahun2 yg lalu. Tapi walaubagaimanapun juga Mesjid Bilal yang termasuk salah satu Mesjid tertua di Jerman ini membuat Ramadhan di Aachen tampak semakin bergairah. Walaupun tidak bisa menyamai kemeriahan Ramadhan di kampung halaman, Mesjid yang selesai dibangun tahun 1972 ini memberi warna berbeda pada setiap Ramadhan.

Mengherankan, bagaimana Mesjid Bilal ini bisa selalu penuh ditengah kesibukan seharian orang2. Sepertinya Azan Isya yang baru dikumandangkan sekitar jam sepuluh malam tidak membuat semangat warga Muslim Aachen dropped utk datang ke Mesjid yang berkapasitas maximal 600 orang ini. Mungkin merdunya suara Imam dan bacaannya yang bagus adalah salah satu alasannya. Pas lagi Khusyu, satu Juz Al-Quran yang dibaca Imam dalam setiap solat Tarawih serasa wie im Flug. Alhasil 8 Rakaat Tarawih, yang di-break sebentar setelah 4 rakaat pertama untuk ceramah singkat ini baru selesai sekitar jam setengah duabelas malam, setelah di tutup dengan 3 rakaat Witir.

Sangat disukuri oleh para Student, bahwa kedatangan Ramadhan tahun ini tepat di masa Vorlesungsfreiezeit. Dengan itu, Mesjid Bilal bukan hanya rame di waktu Solat Isya dan Solat Tarawih saja, tapi juga di Solat2 wajib yang lain kelihatan wajah2 Student tengah memanjatkan doa kepada sang Ilahi. Ceramah2 singkat dalam bahasa Arab selepas Zuhur dan Ashar selalu didengar penuh khusyu oleh para Jamaah. Bagi para non-Arab speaker, waktu ini dipakai untuk berzikir atau membaca beberapa ayat Al-Quran.

Alhamdulillah seperti tahun-tahun sebelumnya, Mesjid Bilal juga mengundang para Jamaah untuk setiap hari Jumat berbuka puasa bersama. Sebelum Maghrib, Mesjid yang mempunyai 3 lantai ini (Lantai 3 khusus untuk para Akhwat), dipenuhi dengan meja dan kursi kosong. 5-6 Orang di setiap Meja mulai terlihat ketika solat Maghrib pun selesai. Sebagai pembuka Sup Maroko dihidangkan, dan Nasi Kuning ditambah Ayam goreng ala Mesjid Bilal adalah menu utama di Iftar kemarin. Alhamdulillah.

Mesjid2 Aachen lainnya juga penuh dengan acara kegiatan Ramadhannya masing2. Seperti contohnya, di dalam Mesjid Arab „Ar-Rahman“ dapat kita terima ceramah dalam bahasa Jerman setiap hari Minggu setelah Zuhur. Dan bagi yang sedang berada di tengah kota Aachen, ketika menjelang berbuka, dapat mendatangi Mesjid Turki atau Mesjid Ar-Rahman yang menjamu para Jamaahnya dengan makanan Iftar setiap harinya.

Semangat para warga Muslim Indonesia di Aachen pun ga kalah hebatnya dari Mesjid Bilal dan Mesjid2 lainnya. Walaupun tidak bisa mengadakan acara buka Puasa setiap minggunya, Keluarga Islam Aachen (KIA) mencoba membawa suasana Ramadhan tanah air dengan acara buka Puasa, MaBIT dan sahur bersama. Karena selama ini acara2 KIA selalu disuguhi sajian lezat buatan para Ibu2, insyaallah untuk acara Ramadhan yang ini, saatnya Chefkoch bapak2 KIA untuk turun tangan memasak makanan Traditional Indonesia yang ga akan kalah sedapnya dengan buatan ibu2.

Alhamdulillah kita masih di awal Ramadhan, insyaallah masih ada waktu buat kita semua untuk dapat mengerjakan semua program yang sudah kita rencanakan untuk Ramadhan 1429 H ini, amin.

Saturday, September 29, 2007

Turunnya Adam

Dimalam ke-14 Ramadhan hanya aku dan ibuku di dapur. Banyak hal yang kita bincangkan, dari hal yang personil sampai ke agama dan ilmu pengetahuan. Tidak disangka omongan yang kerasa singkat itu memakan waktu yang sangat lama. Awalnya hanya ingin membantu ibunda membereskan dapur setelah kita menyantap hidangan makan malam. Menu hari itu bukanlah suatu yang special dimata khalayak ramai, tapi bagiku udang goreng dan sayur bayam itu adalah bukti cinta ibu pada keluarganya.

Perbincanganpun dibuka dengan sindiran kecil tentang cinta putihku. Cerita indah tentang aku dan dia, walaupun kini aku adalah kebenciannya, tapi hatiku masih tersimpan namanya yang indah laksana nirwana. Mungkin sulit baginya untuk memahami ini, tapi ingin rasanya hati meminta rasa sayang itu lagi, tapi apa daya lidah beku ini tak sanggup
berkata tatkala cinta berjalan di depan mata. Hanya doa yang kusantunkan, supaya dia bahagia di dunia dan akhirat kelak. Dari raut wajah ibuku, kutahu dia mengerti perasaanku. "Tenang saja, jodoh itu ditangan Tuhan, kalo emang jodoh ga akan kemana-mana kan?" ujarnya, sembari tersenyum kepadaku.

Itulah Qada dan Qadar Allah swt, semua jalan kehidupan manusia, rezeki, jodoh dan ajal, sudah tertulis dalam kitab Lauful Mahfudh jauh hari sebelum kita dilahirkan. Bahkan kononnya, nabi Adam as pernah menjawab sindiran nabi Musa as dengan berkata: "apakah kamu mencelaku atas sesuatu yang Allah tetapkan kepadaku 40 tahun sebelum aku diciptakan?".

Didalam Qada dan Qadar Allah swt terletak misteri, seperti kisah nabi Adam as yang tertulis di Al-Quran,dalam surat Al-Baqarah ayat 30.

"Ingatlah ketika Tuhamu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi". Malaikatpun berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?".
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".”


Tapi apakah Allah mengatakan kepada Adam tentang apa yang dibicarakan-Nya dengan Malaikat sebelum pencipataannya? Apakah Allah langsung menjadikan Adam salah satu makhluk bumi? sesungguhnya Allah maha Mengetahui lagi maha Bijaksana.

"Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang2 yang zalim."(QS 2:35)

Allahuakbar, Nabi Adam as diberi kesempatan untuk mendiami surgaNya. Mungkin saya sebagai manusia bodoh, bertanya, "mengapa Allah yang awalnya ingin menjadikan manusia Khalifah di muka bumi, lalu membiarkan Nabi Adam as sebagai manusia pertama, tetap di surga? Apa maksud dari kejadian ini?"

Subhanallah, mungkin disitulah letak salah satu misteri Qada dan Qadar Allah. Dari pandangan saya, seorang yang belum pantas mentafsir Al-Quran, adalah suatu kemungkinan yang sangat besar, Nabi Adam as tidak mengetahui isi perbincangan Allah dan Malaikat sebelum kelahirannya. Tapi walaupun demikian, Allah Sang Kholiq (Pencipta) Yang mengetahui sifat hasil ciptaanNya, memberi sebuah pantangan dengan akibat tanpa alasan. Maksudnya? Pantangannya adalah untuk tidak mendekati sebuah pohon (yang akhirnya disetujui bernama pohon Khuldi), dengan akibat mereka akan termasuk orang yang zalim (apakah orang zalim pantas di surga?). Tapi memang sudah sifat manusia cerdas untuk pengen tahu (neugierig - deutsch) apa alasan dibalik larangan itu. Tapi sayangnya di dalam case Nabi Adam as, jawaban didapatkan dari makhluk yang salah (lagi2, apakah ini sudah Qada Allah? tanyaku dalam hati)

Kesalahan itulah yang membuat Nabi Adam, seperti yang sudah Allah inginkan sejak awal, menjadi Khalifah di bumi ini. Dan terdapat diantara kita manusia yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Setelah itu banyak yang hal yang aku diskusikan dengan ibuku. Namun lambat laun, terlihat uapan2 kecil, dan kelopak mata ibuku-pun tak mampu menahan keinginan mata untuk membawanya ke alam mimpi. Malam itu pun ditutup dengan pertanyaan : "Sudah sampe juz berapa sekarang?", senyumku membuatnya tenang, seraya berbisik "empatbelas“ kumasuki kamarku.